Sunday, October 28, 2007

atas nama bangsa.

ih...kayanya akan berat nih postingan gw kali ini..
no...i won't use english for this post...i'll use bahasaku...bahasa indonesia..
why?...in commemorating the "sumpah pemuda" day lah...a bit of patriotic side appears..hehe..

akhir-akhir ini saya banyak menerima email yang kebanyakan berisi berita tentang penyalahgunaan dan penyelewengan informasi mengenai beberapa kebudayaan tradisional kita (indonesia) oleh pemerintah malaysia.
ada email mengenai kasus batik (berdasarkan berita kawt dari perwakilan tetap RI di malaysia juga termasuk rendang, dan beberapa karya ukiran) yang diakui oleh pemerintah malaysia sebagai produk asli dari malaysia, kasus lagu rasa sayange yang dipergunakan pemerintah malaysia dalam kampanye wisata mereka (yang menurut saya benar-benar menjadi pemicu beberapa kasus lainnya akhirnya munculnya ke permukaan), pernyataan menteri kebudayaan malaysia terkait dengan keberadaan angklung, yang menurut beliau merupakan "warisan budaya" malaysia, pemakaian lagu yang berasal dari Minang (maaf...lupa judulnya apa..:)) sebagai lagu pengiring dalam pertunjukan seni yang dibawakan oleh sekelompok penari dari malaysia di osaka, dan beberapa kasus lainnya.

satu hal yang membuat saya agak sebel adalah peran media dalam memprovokasi masyarakat indonesia melalui pemberitaan yang sebenarnya isinya menyesatkan..gimana gak menyesatkan....menyebutkan paten dan hak cipta secara bersamaan???? plis deh..
tapi hal-hal kecil seperti ini membuat saya berpikir (deuuuu...so' banget yah..), ternyata selama ini apa yang sudah kantor dimana saya bekerja lakukan dalam kaitannya dengan sosialisasi HKI (yap...paten dan hak cipta hanyalah sebagian kecil dari apa yang namanya hak kekayaan intelektual atau biasa kita sebut HKI...ingat...!!! HKI, bukan HAKI, karena singkatan itu merupakan singkatan lama yang sekarang sudah diubah menjadi HKI....) bisa dibilang "kurang" berhasil.
mengapa kurang?
mungkiiiin....beberapa stakeholder, seperti para konsultan HKI terhormat, para pengusaha khususnya di unit usaha kecil dan menengah (meskipun mungkin juga tidak semuanya..), serta para peneliti sudah cukup memahami hal-hal mendasar mengenai hak kekayaan intelektual.
tapi, bila melihat pemberitaan, baik di TV maupun di koran, duh...saya malu...
masyarakat, yang kebanyakan mencaplok bulat-bulat apa saja isi berita yang ada di TV tanpa merasa perlu mencerna lagi-seakan-akan televisi itu sangat amat pintar dan mengetahui segala-galanya-, masih banyak yang tidak mengetahui bahwa HKI itu bukan hanya paten saja...atau hak cipta saja...tapi juga ada hak-hak yang lainnya..
jangankan menggunakan istilah dengan benar, tau apa itu HKI juga mereka tidak....
bukannya mengecilkan, tapi jujur...sebelum saya masuk ke dalam skuad ini pun, terus terang saya buta HKI. beruntung saya punya kesempatan untuk mempelajari apa itu HKI, jadi sekarang saya bisa so' tau dan bilang kalo sebagian besar masyarakat indonesia masih belum mengerti apa itu HKI (dan bersyukur saya termasuk ke dalam kaum minoritas yang "cukup" mengerti tentang HKI..hehe...).
yang paling bikin saya jengkel kalo sudah menyangkut pemakaian kata-kata oleh para wartawan kita yang salah tempat. kenapa salah tempat?
well.....masa bikin headline "sudah saatnya hak cipta batik perlu dipatenkan"
pliss deeeeeehhhhh,.......hak cipta dan paten itu kan dua rezim HKI yang sama sekali berbeda!!
begitu juga ketika di satu minggu pagi saya kebetulan menyimak pemberitaan secara khusus oleh SCTV mengenai beberapa produk indonesia yang menurut mereka sudah lepas dari tangan indonesia (mereka memberikan FT tentang tempe, angklung, rendang, dan lagu rasa sayange, kalo saya ga salah ingat). dengan lantangnya pembaca berita menyebut bahwa tempe, kunyit, dan batik sudah lepas dari tangan kita...hueeeiiiii....rasanya saya benar-benar mau teriak deh!
begini loh bapak-bapak dan ibu-ibu....
dalam mendapatkan perlindungan paten itu sebenarnya tidak mudah. ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh pemohon, yaitu novelty atau kebaruan, langkah-langkah invetif, dan dapat diterapkan di industri (industrial applicable).
sekarang misalnya tempe yang kata mas bayu setiono sang pembawa acara di sctv itu sudah dipatenkan oleh Jepang..sebenarnya yang dipatenkan itu bukan TEMPE-nya, melainkan proses pembuatannya.
mengapa paten atas proses pembuatan tempe diberi paten? (mohon dikoreksi kalo saya salah yaa)
meskipun tempe itu sudah lama eksis di indonesia, tapi proses pembuatannya itu masih teramat sangat sederhana (yang katanya ada proses menginjak-injak ya??) dan masih bersifat tradisional.
bukan ga mungkin kaaan seseorang (baik orang indonesia asli atau orang asing) menemukan suatu teknik yang lebih canggih dalam proses pembuatan tempe tersebut?
naaah...proses inilah yang mereka patenkan, bukan tempe nya yang dipatenkan...
kalo tempe sudah dipatenkan oleh orang lain, tentu kita ga akan bisa sembarangan membuat dan menjual tempe doong....sementara sekarang kita masih dengan bebasnya membeli, mengkonsumsi tempe kan??

sekarang mengenai batik.
untuk permasalahan ini, memang agak sulit untuk menjelaskannya, karena akan melibatkan rezim HKI tradisional (harap dicatat..beberapa hak yang sudah saya sebutkan di atas termasuk dalam bentuk rezim HKI modern ya...sementara rezim HKI tradisional mencakup tiga hal, yaitu sumber daya genetik, pengetahuan tradisional, dan ekspresi folklor)
widih...yang modern aja masih bingung ngebedainnya, sekarang dah nyerempet ke tradisional ya...
yaah..pokonya begini deh...saya sempat diminta atasan untuk browsing dan cari tahu apakah benar ada suatu HKI atas batik di malaysia, khususnya paten, yang sudah terdaftar. sampai saat ini, saya masih belum menemukan hasilnya, namun berdasarkan informasi dari beberapa orang terkait, disebutkan bahwa yang ada di malaysia itu adalah pendaftaran merek, bukan paten.
seperti tempe juga, seandainya adapun pasti yang didaftarkan patennya adalah proses pembuatannya, bukan batiknya itu sendiri.
kan ngga gampang loh mendapatkan hak paten...jadi jangan juga terlalu gampang bilang ini dan itu sudah dipatenkan yaa...

satu hal lagi...untuk kasus lagu rasa sayange, mungkin beberapa sudah ada yang tau, tapi sekedar info saja, pemerintah malaysia melalui menteri kebudayaannya (yang bermulut besar itu) secara de facto sudah mengakui bahwa secara memang benar lagu tersebut adalah berasal dari indonesia. selain itu, mereka juga telah meminta maaf karena telah lalai dalam penggunaan lagu minang di osaka tanpa memberikan informasi dari mana lagu tersebut berasal.
naah...hal ini merupakan satu langkah maju kan?
kita jangan mengecilkan upaya-upaya pemerintah kita lah...hargai apa yang sudah mereka upayakan..meski kita juga kadang-kadang gemes ya...kenapa juga kayanya kita kurang keras sama malaysia??
well...one at a time..that's the art of diplomacy...we can't just rush in everything...
at the time, i think all problems, or at least large part of it, will be solved.

bukannya saya tidak cinta indonesia, tapi memang kadang-kadang kita itu harus diserempet dulu baru ngeh...baru sadar kalo ternyata apa yang kita punya itu berharga...
jujur....saya juga sebel sama malaysia...tapi bukan berarti saya akan membela negara saya dengan membabi buta....
mereka pintar (atau licik??hehe...) dan bisa melihat peluang. apa pernah pemerintah indonesia berfikir untuk menggunakan lagu rasa sayange sebagai lagu kampanye wisata kita???
mungkin tidak...
tapi ada satu hal yang bisa kita ambil dari penggunaan lagu tersebut oleh pihak malaysia..
seandainya benar tahun 2008 dicanangkan sebagai "visit indonesia year 2008", mengapa kita tidak menggunakan lagu rasa sayange tersebut sebagai lagu kampanye kita?
toh menteri kebudayaan malaysia sudah mengakui bahwa memang benar lagu tersebut asli berasal dari indonesia..setidaknya kita telah mendapatkan media promosi gratisan..hehee..

anywe...ada satu info yang agak lucu....kita tau kalo malaysia juga (melalui mulut besarnya mister rais yatim sang menteri berbudaya itu..) ngaku-ngaku kalo angklung itu merupakan warisan budaya malaysia yang sudah diturunkan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun (mereka menyebutnya bamboo malay kalo ga salah..), tapi you know what? mereka itu ga tau gimana cara memainkannya!!! kalo ngaku-ngaku mikir dulu napa ya...

No comments: